r0KeU5oSmyKqwKizJNrjhU8bDpDd2EMCTD9hyh6V
Bookmark

Kasus! Bentrok 2 Desa - Halmahera


News - Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto memberikan penjelasan terkait perkelahian antara dua kelompok masyarakat dari dua desa yang terjadi di Kecamatan Patani pada hari Jumat (03/04/2026).

Kedua kelompok tersebut terlibat konflik menggunakan berbagai senjata tajam seperti parang, tombak, dan senapan angin.

Pertikaian ini berlangsung dari pagi hingga siang hari. Pasukan gabungan dari Polres Halmahera Tengah dan TNI dari Kodim 1512/Weda diterjunkan untuk membubarkan kerumunan.

Namun, situasi sempat sulit untuk diatur karena emosi tinggi dari massa. Perkelahian tersebut bahkan menyebabkan terjadinya pembakaran rumah warga di Desa Sebenpopo. Akibatnya, penduduk setempat terpaksa mengungsi untuk mencari tempat aman.

Polda Maluku Utara telah mengirimkan personel Brimob dan Sabhara, didukung oleh TNI, ke lokasi untuk menghentikan kerusuhan. AKBP Fiat Dedawanto menyatakan bahwa konflik seharusnya tidak terjadi. Emosi masyarakat meningkat karena informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Pemicu konflik
Perkelahian ini diduga berawal dari penemuan jenazah seorang kakek bernama Ali Abas (65), yang merupakan warga Desa Banemo, di kebunnya pada hari Kamis (02/04/2026).

“Informasi tentang penemuan tersebut menyebar di desa dan banyak yang terpengaruh sehingga menimbulkan kemarahan,” jelas AKBP Fiat Dedawanto dalam wawancara dengan Tribunternate.com melalui telepon, pada hari Minggu (05/04/2026).

Kondisi ini mendorong sebagian warga bertindak kekerasan, yang berujung pada perkelahian yang terjadi beberapa hari lalu. Walaupun sempat bisa diredakan, namun karena emosi, beberapa fasilitas umum dirusak dan ada korban mengalami luka-luka.
Bukan masalah SARA
AKBP Fiat Dedawanto menambahkan bahwa perkelahian tersebut murni merupakan tawuran antar kelompok warga desa.

Ia membantah dengan tegas adanya isu yang mengaitkan perkelahian ini dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

"Kami ingin menegaskan bahwa kejadian ini bukan masalah SARA, melainkan tawuran antar kelompok. "

"Data yang kami peroleh menunjukkan bahwa dari 650 warga di Desa Sebenpopo, hanya ada 15 warga Muslim di sana. "

"Jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya," tegas AKBP Fiat Dedawanto.

Pemerintah daerah, baik dari provinsi maupun kabupaten, sudah berada di lokasi untuk menenangkan warga. Fokus utama saat ini adalah menyelidiki tuntas siapa yang bertanggung jawab atas kematian Ali Abas yang menjadi pemicu kerusuhan itu.

"Kami telah membentuk tim gabungan dari Ditreskrimum Polda Maluku Utara dan Satreskrim Polres Halmahera Tengah untuk mencari pihak yang terlibat dalam konflik ini," tambah Kapolres.

Kondisi terkini dan upaya pemulihan
Hingga saat ini, pihaknya telah melakukan pembersihan di kedua desa dan telah menyita ratusan senjata tajam (situasi di lapangan mulai aman).

Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Bupati Halmahera Tengah Ikram M Sangadji, Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun, serta Danrem 152/Babullah Ternate Brigjen TNI Enoh Solehudin bersama dengan tokoh masyarakat setempat sedang melakukan langkah-langkah pencegahan serta mediasi.

Prioritas awal kepolisian adalah memulihkan kondisi agar masyarakat merasa aman untuk kembali ke rumah masing-masing.

Polres Halmahera Tengah telah menyiagakan personel di empat lokasi pos pengamanan:
  • Pos di masing-masing dua desa yang bertikai
  • Pos di area perbatasan desa
  • Pos di tempat pengungsian
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebar informasi yang belum tentu benar," tutup AKBP Fiat Dedawanto.

Kronologi kejadian berdasarkan informasi lapangan
Berdasarkan laporan yang dikumpulkan, konflik terjadi di perbatasan dua desa di Kecamatan Patani pada hari Jumat (03/04/2026) pagi.

Konflik ini dilaporkan menyebabkan dua orang meninggal dan sejumlah rumah serta fasilitas umum, termasuk pos polisi, terbakar.

Perkelahian ini diduga berawal dari penemuan jenazah seorang kakek bernama Ali Abas (65) dari Desa Banemo di kebunnya pada hari Kamis (2/4/2026).

Keluarga Ali Abas mencurigai ada unsur pembunuhan karena ada luka akibat benda tajam di tubuhnya. Beberapa jam setelah penemuan jasad Ali Abas, emosi massa mulai memicu serangan.

Hingga hari Minggu (05/04/2026) sore WIT, situasi mulai bisa dikendalikan di bawah pimpinan Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun, dengan penempatan total 250 personel TNI-Polri.

(Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, menyampaikan rasa keprihatinannya saat berada di tengah-tengah masyarakat Desa Banemo pasca terjadinya konflik)

Tanggapan Gubernur Maluku Utara
Gubernur Maluku Utara Sherly Laos menyatakan sudah menerima laporan terperinci tentang perkelahian ini.

Karena itu, ia menekankan perlunya penyelesaian melalui dialog dan penegakan hukum yang adil. "Kehadiran pemerintah dan aparat di lokasi bertujuan untuk menenangkan, melindungi, dan memastikan situasi tidak memburuk. "

"Oleh karena itu, saya mengimbau kepada masyarakat agar bijak dalam menanggapi informasi yang beredar di media sosial,” pinta Sherly Laos. (*)
(Sumber:ternate.tribunnews.com)

Peringatan ! Jangan ditiru tindakan/perilaku yang tidak di benarkan tersebut.

PERINGATAN! (konten grafis 18+)
Berikut Rekaman Videonya :
Watch Here

0

Posting Komentar

Dilarang! Berkomentar Rasis